Pengertian Tags, Variable, dan Trigger Pada Google Tag Manager (GTM)

2/19/2021 Add Comment

Google Tag Manager sudah dikenal sebagai alat pengatur tag yang mudah digunakan. Ketahui bagaimana cara Tag manager bekerja dengan memahami konsep Tags, Variable, dan Trigger.

Apakah kamu pernah berpikir, bagaimana cara mengetahui perilaku pengunjung di dalam websitemu? Misalnya, jika kamu memiliki dua tombol: share Instagram dan share Twitter, bagaimana cara mengetahui mana tombol yang lebih banyak kliknya?

Di zaman dulu, kamu membutuhkan javascript yang dipasang manual di setiap tombol untuk melakukan tracking dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh pengunjung. Javascript ini cukup memperberat kinerja website, dan tentu saja sangat tidak praktis.

Pengertian Tags, Variable, dan Trigger Pada Google Tag Manager (GTM)

Bayangkan saja jika suatu hari kamu harus mengganti tombol yang mau ditrack, maka kamu akan kesulitan untuk menemukan kode yang kamu tambahkan sebelumnya.

Google Tag Manager Hadir Untuk Mempermudah Masalah Tracking Website

Nah dengan Google Tag Manager, kamu tidak perlu lagi berhadapan dengan koding ketika akan melakukan tracking. Kamu juga bisa menggunakan berbagai macam kode tracking, seperti Facebook Pixel, LinkedIn Conversion Tag, sampai TikTok Pixel.

Cukup tentukan aktivitas apa yang ingin kamu track, tentukan jenis tagnya, tentukan variabelnya, dan tentukan triggernya, maka aktivitas bisa segera kamu track tanpa perlu menuliskan kode satu huruf pun!

Pengertian Tags Google Tag Manager

Tags merupakan 'label' dari aktivitas yang ingin kamu track. Tag ini berisi informasi dari aktivitas yang akan ditrack, seperti jenis tracking code, data variabel, dan trigger. Tags inilah yang nantinya akan 'menyala' dan menandai suatu aktivitas apabila syaratnya terpenuhi.

Setiap tags yang aktif akan memberikan set data, disebut "event parameters" dan akan mengirimkan data ke vendor yang mengeluarkan tracking code yang kamu pasang.

Tags Google Tag Manager

Misalnya, jika kamu memasang tag Facebook Pixel untuk pengunjung yang mengklik tombol WA, maka begitu ada pengunjung yang melakukan aktivitas tersebut tags akan mengirimkan informasi ini ke Facebook. Facebook pun bisa mencatat kegiatan tersebut dan menyimpan data yang diterima.

Google Tag Manager mendukung berbagai tipe tag, seperti GA4, Google Analytics, Google Ads Conversion Tracking, Google Ads Remarketing Audience, TikTok Pixel, Facebook Pixel, dan sebagainya. Kamu bisa mencari template tag di template gallery, atau dengan memanfaatkan tag bertipe "Custom HTML" atau "Custom Image" jika kamu tidak menemukan template yang tepat.

Ikuti petunjuk pemasangan tag yang diberikan oleh setiap vendor tracking code/pixel

Definisikan Data Dengan Variable

Selanjutnya kamu harus tahu apa yang dimaksud dengan variable di dalam Google Tag Manager. Data yang ada di dalam tags didefinisikan dengan menggunakan variable, biasanya digunakan untuk mendefinisikan data di dalam event parameters.

Variable Google Tag Manager

Dari gambar di atas, variable mendefinisikan beberapa data, yaitu:

  • Event category, dengan variable Instagram
  • Event action, dengan variable click
  • Google Analytics Settings, dengan variable {GA ID}

Setiap kali tag aktif, maka data-data dari variable inilah yang akan dikirimkan ke tracking code yang digunakan (dalam kasus ini, Google Analytics).

Variable juga terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

  • Constant, artinya nilai dari variable akan selalu sama sesuai yang dituliskan. Contohnya adalah "Instagram" yang dituliskan di dalam event parameter "Event category" di contoh di atas
  • Dynamic, artinya nilai dari variable akan selalu berubah menyesuaikan dengan keadaan ketika tag diaktifkan. Contohnya adalah variable "Page URL" dimana nilainya akan mengikuti sesuai URL yang dikunjungi oleh visitors

Ketahui Kapan Menggunakan Constant atau Dynamic Variable

Ada kondisi dimana kamu harus menggunakan variable constant dan kapan kamu harus menggunakan variable yang dynamic.

Hukumnya cukup mudah, yaitu gunakan constant jika memang nilainya akan tetap dan tidak berubah. Contohnya nilai ID Google Analytics, dimana ID Google Analytics akan selalu sama.

Dan gunakan dynamic variable apabila kamu memerlukan data yang dinamis. Contohnya adalah referrer, dimana referrer akan selalu berubah mengikuti sumber visitor berasal.

Aktifkan Tag dengan Trigger

Terakhir adalah trigger, yang merupakan "syarat" untuk tag aktif. Perlu diketahui bahwa tags tidak akan sembarangan aktif tanpa memenuhi suatu syarat yang ditentukan.

Trigger Google Tag Manager

Contoh pada gambar di atas adalah trigger dimana tag akan aktif jika user melakukan klik di link yang mengandung variable karakter/frasa "https://instagram.com/feichangzhidao".

Tentukan Trigger Sesuai Kebutuhan Tag

Ingat untuk selalu menentukan trigger sesuai jenis tag yang akan kamu pasang. Misalnya, jika tag yang akan kamu pasang adalah tag untuk mencatat leads, maka pastikan trigger yang kamu pasang juga berkaitan dengan pengumpulan leads.

Tentukan juga tipe trigger yang akan digunakan, berikut dengan syarat dan variablenya.

Kamu bisa menggunakan Regex (Regular Expression) jika kondisi/syarat yang dibutuhkan lebih dari satu. Pelajari lebih lengkap seputar Regex di referensi lain

Dynamic variable hampir tidak pernah digunakan pada pembuatan trigger

Hubungan Tag, Variable, dan Trigger

Setelah kamu memahami arti dari ketiganya, sekarang waktunya untuk mengetahui bagaimana contoh penggunaan dari kombinasi ketiganya. Semua tag pasti mengandung setidaknya 1 variable dan 1 trigger.

Berikut contoh tag Google Ads yang saya pasang untuk mendapatkan data leads WA:

Google Ads GTM

Lalu, berikut trigger yang saya gunakan untuk mengaktifkan tagnya:

Dari data di atas, bisa didapatkan informasi tag:

  • Jenis tag: Google Ads Conversion Tracking
  • Variable: Conversion ID dan Conversion Label
  • Trigger: Link click dengan variable Click URL yang mengandung karakter "whatsapp"

Maka ketika user melakukan klik pada tombol yang di URL-nya mengandung karakter "whatsapp", Tag Manager akan mengaktifkan tag ini lalu memberikan informasi konversi ke Google Ads.

Kumpulkan Data dan Optimasi Strategi Digital Marketing dengan Google Tag Manager

Sekarang kamu sudah menguasai dasar dari tags, variable, dan trigger dari Google Tag Manager. Dengan mengimplementasikan strategi tag yang tepat, maka kamu bisa mendapatkan data-data yang bernilai dari kegiatan visitors kamu.

Data ini nantinya bisa kamu gunakan sebagai informasi dari performa campaign maupun sumber untuk remarketing audience. 

Yuk mulai gunakan fitur Google Tag Manager dan tingkatkan efektifitas dari startegi digital marketingmu!

Pengertian Dimension dan Metric Pada Google Data Studio

2/06/2021 Add Comment
Google Data Studio merupakan salah satu platform visualisasi data besutan Google yang cukup mudah digunakan. Dengan menggunakan Data Studio, kamu bisa membuat dasbor laporan dan data secara asinkron yang bisa diakses secara kolaboratif!

Selain itu, Google Data Studio juga termasuk ke dalam Google Marketing Platform. Artinya, tools ini juga dioptimasi untuk tujuan improvisasi digital marketing. Tentu saja, mengingat dengan ini kamu bisa memberikan data dengan lebih baik.

Tentang Google Data Studio

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Data Studio berguna untuk melakukan visualisasi data. Misalnya, data-data dari tabel di Google Ads bisa kamu rubah menjadi grafik yang atraktif dan lebih mudah dicerna.

Pengertian Dimension dan Metric Pada Google Data Studio

Google Data Studio memvisualisasi data dengan menggunakan dimension dan metric dari sumber data. Sebenarnya hampir sama seperti software visualisasi data lainnya, seperti Excel atau Tableau. Hanya saja di Data Studio, kamu bisa melakukannya dengan lebih mudah dan gratis.

Apa Itu Dimension?

Dimension merupakan data kualitatif, dimana dimension selalu diekspresikan dengan karakter abjad. Artinya, dimension berguna untuk mendeskripsikan data yang ada dari metric.

Data Studio Dimensions

Beberapa contoh dimension adalah: User Type, Device, Device Category, Location, dan sebagainya.

Apa Itu Metric?

Sedangkan metric adalah satuan data kuantitatif yang berguna untuk mengekspresikan data dari dalam dimension. Artinya, metric berguna untuk menunjukkan jumlah nominal dari dalam dimension.

Data Studio Metrics

Contoh metric: New Users, Exit Rate, Goal Completions, dan sebagainya

Implementasi Dimensions dan Metric di Data Studio

Dimensions dan Metric hanya bisa bekerja apabila mereka berada di topik yang sama. Misalnya, kamu menggunakan dimensions device type dengan metric new users. Jika topiknya berbeda, maka keduanya akan menghasilkan error dan data studio-mu tidak bisa menunjukkan hasil sama sekali.

Perlu diperhatikan juga, jika kamu menggunakan filter khusus untuk menyaring data tertentu, pastikan agar filter itu juga masuk ke dalam topik yang ada di dalam dimensions dan metric yang kamu pilih. Sebab ada beberapa filter yang tidak kompatibel dengan dimensions atau metric yang ada, seperti filter Final URL pada data source Google Ads.

Lalu pastikan juga kamu memilih grafik yang tepat, terutama bila kamu menggunakan multi dimension atau multi metric.

Ayo Mulai Visualisasi dan Automasi Data Dengan Data Studio!

Dengan menggunakan data studio, kamu bisa mengurangi workload yang tidak perlu seperti menuliskan data harian secara manual di excel. Data studio akan mengambil data-data tersebut secara otomatis dan menyajikannya dalam bentuk grafik yang mudah dipahami oleh orang awam sekalipun.

Yuk mulai automasi datamu bersama Google Data Studio! Untuk saat ini, Data Studio sudah mendukung cukup banyak source data dan hampir semua sumber yang berasa dari Google Marketing Platforms (seperti Google Analytics dan Google Ads) juga sudah kompatibel seluruhnya. Untuk memulai, kamu bisa langsung mengunjungi halaman utama Google Data Studio dan memulai dasbor pertamamu.

Perbedaan Facebook Ads Manager dengan Instagram Boost

1/17/2021 Add Comment
Kamu tentu pernah bertanya perbedaan menggunakan Facebook Ads Manager dengan Instagram Boost kan? Meski sama-sama digunakan untuk beriklan di jaringan Instagram, ternyata keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing!

Perbedaan Facebook Ads Manager dengan Instagram Boost

Bagi pengiklan yang baru terjun, biasanya akan lebih nyaman menggunakan opsi Instagram Boost. Alasannya tidak lain karena lebih mudah dan tidak perlu melakukan setting yang terlalu banyak. Namun, ini membuat Instagram Boost memiliki batasannya sendiri.

Facebook Ads Manager vs Instagram Boost

Nah, bagi kamu yang masih memiliki pertanyaan seputar ini. Admin akan membahas secara sederhana perbedaan dari kedua metode iklan dari facebook dan instagram ini. Yuk disimak!

Kemudahan Pemasangan Iklan

Seperti yang sudah diutarakan di awal artikel, memasang iklan lewat Instagram Boost jauh lebih mudah dibandingkan lewat Ads Manager. Instagram Boost hanya memiliki 3 goal utama (profile visit, DM, dan website visits) dan 4 langkah pemasangan (pengaturan goal, penyusunan targeting, pengaturan budget, dan konfirmasi pembayaran).

Sedangkan Facebook Ads Manager memiliki berbagai pilihan goal yang dibagi menjadi 3 journey (awareness, consideration, dan desicion), bergantung dari goal akhir iklan yang akan kamu pasang. Selain itu, Ads Manager juga memiliki klasifikasi Campaign, Ad Group, dan Ads Creative serta berbagai opsi lanjutan lainnya.

Dashboard Ads Manager
Dashboard Ads Manager yang kompleks

Beriklan dengan Ads Manager tentu jauh lebih kompleks, namun hasilnya kamu bisa mendapatkan hasil paling maksimal dari iklan yang kamu pasang. Tapi bukan berarti kamu tidak boleh memasang iklan dari Instagram Boost ya! Jika kamu masih belum familiar, maka menggunakan Instagram Boost akan jauh lebih aman dari iklan yang gagal.

Opsi Optimasi

Di Instagram Boost, kamu tidak memiliki optimasi dari penayangan iklan. Sehingga iklan hanya akan tampil berdasarkan dari histori engagement akun kamu. Apalagi kalau kamu memilih audience automatic, maka secara otomatis iklan hanya tayang pada akun-akun yang memiliki ketertarikan yang sama dengan tema akun yang diiklankan.

Sedangkan jika kamu beriklan lewat Ads Manager, kamu bisa memilih berbagai optimasi penyangan iklan. Mulai dari optimasi impresi, jangkauan iklan, klik link, landing page views, konversi, dan sebagainya. Ini memang membuat kamu bisa menjaring audience yang lebih relevan.

Ads Manager juga memiliki opsi optimasi budget yang jauh lebih lengkap. Dua di antaranya adalah Cost Cap dan Bid Cap, yang diset berdasarkan dari pengeluaran iklan kamu. Ini membuat budget yang digunakan dalam iklan bisa semakin efektif.

Laporan

Laporan dari Instagram Boost sangatlah terbatas, bahkan tercampur dengan engagement dari organik. Sehingga kamu tidak bisa tahu berapa besar pengaruh iklan terhadap perkembangan akun kamu.

Sedangkan kalau kamu beriklan lewat Ads Manager, kamu akan mendapatkan berbagai metrik laporan yang sangat lengkap. Jika iklanmu berorientasi pada penghasilan dan transaksi, kamu juga bisa mendapatkan informasi total nilai pendapatan dan jumlah barang yang berhasil kamu jual melalui iklan (dengan bantuan Facebook Pixel).

Dan juga kamu bisa mendapatkan infografis laporan, perbandingan antar ads creative sampai A/B Testing.

Integrasi Dengan Pixel

Instagram Boost masih belum bisa bekerja dengan bantuan Pixel. Artinya, kamu tidak bisa menargetkan audience khusus atau menggunakan optimasi penayangan sesuai dengan keinginan kamu. Dan juga, kamu tidak bisa melakukan tracking terhadap mereka yang telah berinteraksi dengan iklan yang kamu tayangkan.

Jika kamu menggunakan Ads Manager, maka kamu akan mendapatkan akses penuh ke Facebook Pixel dan melakukan pelacakan terhadap audience iklanmu. Kamu bisa membangun audience atau menggunakan audience tersebut untuk iklan selanjutnya, misalnya kepada mereka yang meninggalkan keranjang belanja mereka tanpa melakukan checkout.
Lalu, kamu juga bisa mengoptimasi penayangan iklan hanya kepada mereka yang memiliki kemungkinan untuk melakukan aksi yang kamu harapkan. Misalnya, kamu bisa mengoptimasi iklan hanya kepada mereka yang mungkin membeli produk atau mendaftar kelas online yang kamu adakan.

Targeting dan Custom Audience

Selanjutnya adalah perbandingan targeting dengan custom audience. Di Instagram Boost, kamu hanya bisa menargetkan audience bawaan yang telah disediakan oleh pihak Instagram. Selain itu, kamu juga tidak bisa memilih opsi Narrow Audience, sehingga ada resiko kalau iklan akan dilihat oleh audience yang kurang relevan.

Custom Audience Ads Manager
Custom Audience pada Ads Manager

Sedangkan di Ads Manager, kamu punya kontrol penuh terhadap audience-mu. Kamu bisa berkreasi hingga audience yang paling relevan dengan kombinasi custom audience, narrow audience, dan interest targeting. Namun, kamu harus tetap memperhatikan komposisi dan jangkauan audiencemu ya! Sebab jika terlalu sempit, maka bisa jadi iklanmu tidak akan jalan.

Jadi, Bagus Mana?

Tentu saja saya akan merekomendasikan Ads Manager. Namun karena belum tentu semua orang bisa memahami antarmuka dan pengaturan Ads Manager yang rumit, maka kamu tetap boleh pakai Instagram Boost (dengan segala konsekuensinya).
Baca Juga: 5 Platform Kelas Online Gratis Untuk Belajar Digital Marketing
Usahakan untuk segera mulai menggunakan Ads Manager, untuk memastikan iklan kamu semakin tepat sasaran. Kamu tidak perlu harus menguasai semuanya, yang penting fitur yang paling kamu butuhkan saja sudah cukup.

Pengertian dan Cara Membuat Custom Audience di Google Analytics

1/13/2021 Add Comment
Custom audience merupakan salah satu kekuatan utama digital marketing. Dengan custom audience, anda bisa menentukan audience dari iklan/campaign anda berdasarkan dari keinginan kamu sendiri. Custom audience juga tidak memerlukan dan tidak berhubungan dengan pengeluaran dari iklan yang akan kamu bayar nantinya.

Pengertian dan Cara Membuat Custom Audience di Google Analytics


Nah, salah satu cara untuk membuat custom audience adalah dengan menggunakan Google Analytics. Baik Google Analytics versi UA (Universal Analytics) maupun GA4, kamu bisa membuat custom audience yang nantinya bisa kamu integrasikan dengan Google Ads.

Tips: Kamu harus mengintegrasikan akun Google Ads dengan Google Analytics terlebih dahulu sebelum bisa menggunakan setting custom audience ke Google Ads.

Mengapa Menggunakan Custom Audience?

Bayangkan kamu ingin memiliki bisnis layanan jasa penulis artikel, dan kamu sudah memiliki pengunjung yang cukup besar dari search engine. Hanya saja, sebagian besar pengunjungmu masih belum paham bagaimana layanan yang kamu berikan dan kamu ingin menraih mereka dengan bantuan Google Ads.

Bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah ini?

Pasalnya hanya dengan memasang ads saja, apalagi display ads, tidak akan bisa secara otomatis menjaring orang yang sudah tahu/paham model dan poin utama bisnismu. Memang bisa seiring berjalannya waktu, tapi kamu kehilangan potensi yang cukup besar karena tidak mentarget audience yang sudah "setengah" matang itu.

Di sinilah peran custom audience!

Lewat Google Analytics, kamu bisa membuat segmentasi audience khusus yang berasal dari "Organic Search". Lalu setelah itu kamu bisa meletakkannya di audience targeting Google Ads, sesuai dengan campaign/iklan yang sedang dijalankan.

Lalu, Bagaimana Cara Membuat Custom Audience?

Caranya cukup mudah, ada dua hal yang perlu kamu persiapkan:
  • Akun dan properti Google Analytics yang aktif (baik UA atau pun GA4) dan sudah terhubung dengan website
  • Akun Google Ads yang terhubung dengan Google Analytics
Jika keduanya sudah siap, kamu bisa masuk ke menu "Audience Definition" yang berada di menu "Admin"di bagian "properti"

Google Analytics Custom Audience

Lalu kamu bisa langsung mendefinisikan audience sesuai dengan kebutuhanmu. Nantinya selain bisa digunakan untuk retargeting iklan, kamu juga bisa mendapatkan laporan audience secara komprehensif di bagian laporan "Audiences"

Tips: Kamu juga bisa membuat audience dari segmentasi data

Beberapa Contoh Custom Audience yang Bisa Kamu Gunakan

Lalu apa saja contoh custom audience yang tepat dan valid untuk laporan Google Analytics serta remarketing iklan? Berikut beberapa ide yang bisa kamu gunakan.

Ingat, custom audience tidak bisa serta merta digunakan untuk remarketing. Mengingat ada kebijakan privasi dan batas minimal audience 100 (RLSA) dan 1.000 (Display Network).

Custom Audience Berdasarkan Channel Traffic

Setiap sumber traffic memiliki strategi dan intensi masing-masing. Contohnya, mereka yang datang dari pencarian organik (search engine) tentu berbeda dengan yang datang dari sosial media. Bahkan yang dari sosial media sekalipun juga bisa berbeda, seperti Instagram dan LinkedIn.

Karena itu kamu bisa menggunakan ide custom audience ini untuk mentarget ulang mereka semua dan memastikan mereka mendapatkan value yang paling maksimal dari website layanan yang kamu berikan.

Custom Audience Berdasarkan Perilaku

User yang mengunjungi website tentu memiliki perilaku sendiri-sendiri. Ada yang cukup tertarik dan menjelajahi lebih lanjut dan ada yang hanya sekadar meilihat lalu langsung pergi (bounced). Keduanya tentu memiliki alasan masing-masing.

Kamu bisa memanfaatkan laporan Google Analytics untuk menganalisa perilaku mereka, lalu membentuk custom audience untuk masing-masing perilaku dan kemudian melakukan retargeting pada mereka.

Misalnya, kamu bisa membuat custom audience khusus untuk mereka yang sudah mengisi wishlist atau shopping cart tapi belum melakukan checkout dengan diskon spesial. Atau kamu juga bisa mentarget ulang mereka yang sudah menjelajahi situs cukup detail (dengan menggunakan metrik page depth).

Custom Audience Berdasarkan Page Visit

Bergantung dari jenis halaman yang dikunjungi, kamu bisa mentarget mereka untuk memancing mereka agar menjadi konversi. Misalnya jika kamu memiliki landing page penjualan sepatu dan memiliki banyak pengunjung namun minim konversi, kamu bisa mentargetnya dengan custom audience.

Sebab bisa jadi mereka meinggalkan halaman karena tidak keburu beli, atau masih menabung, atau mungkin kelupaan. Dengan melakukan retarget, maka kamu bisa mendapatkan kembali peluang yang tertunda tadi.

Tentu Saja Strategi Custom Audience Jauh Lebih Luas Dibanding yang Disebutkan

Kreasikan ide-ide kamu dengan membuat berbagai jenis custom audience berdasarkan strategi penargetan yang kamu butuhkan. Tidak perlu takut, sebab Google akan melakukan observasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memusatkan audience ke custom audience yang kamu tentukan.

Jika hasilnya baik, maka Google akan menggunakan custom audience-mu sebagai opsi penargetan utama. Dan sebaliknya kalau jelek, maka custom audience tidak akan memberikan hasil.

Bagaimana? Siap mengoptimasi iklan dengan Custom Audience?

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *