Apa yang Membuat Wabah Corona Begitu Menakutkan?

3/10/2020
Selamat datang kembali di Feichangzhidao. Sebelumnya, apa yang membawa anda untuk masuk ke dalam artikel ini? Jika anda mengira kalau saya akan membahas semua fakta Corona, maka saya infokan bahwa anda salah alamat.

Jujur saja wabah penyakit Corona terlihat seperti dibesar-besarkan, entah mengapa. Padahal jika dibandingkan dengan penyakit lainya seperti HIV, Ebola, SARS, dan MERS, angka kematian Corona jauh lebih kecil dan tingkat kesembuhan yang jauh lebih tinggi. Lantas, apa yang membuat Corona begitu menjadi iblis yang sangat ditakuti?

Apa yang Membuat Wabah Corona Begitu Menakutkan?

Jika dibilang tidak ada obat dan vaksin, maka penyakit yang saya sebutkan di atas juga tidak ada obat dan vaksinnya. Tapi, kenapa hanya Corona saja yang heboh? Padahal belum tentu juga kalau virus Corona ini benar-benar 'baru', karena mungkin saja kita sudah pernah bertemu dengan virus ini sebelum meledak sekarang.

Kekhawatiran yang berlebihan

Munculnya penyakit baru memang tidak boleh dianggap sepele, tapi bukan berarti anda juga harus panik seperti ikan yang dilempar ke darat. Tindakan irasional seperti memborong sembako dan masker bukanlah respon yang tepat terhadap munculnya penyakit baru.

Ditambah kekhawatiran bahwa virus Corona tidak ada obatnya. Tidak ada obat, bukan berarti tidak bisa sembuh. Hanya saja pemberitaan di luar dikombinasikan dengan ketakutan irasional, membuat masyarakat menjadi khawatir secara berlebihan.

Pemberitaan yang tidak transparan

Pemberitaan yang hanya memancing visit, dengan judul yang menjebak, dan kalimat yang dipotong-potong juga menjadi andil dari kepanikan Corona. Contohnya, berapa banyak berita yang terinfeksi dibandingkan dengan berita yang sembuh? Padahal di Wuhan sendiri sudah ribuan pasien dinyatakan sembuh, dan bahkan beberapa rumah sakit darurat sudah kosong.

Pemberitaan yang seperti ini lah yang kemudian menyulut ketakutan masyarakat. Padahal, jika masyarakat mau lebih kritis dan mencari ke sumber lain (yang tentunya bisa dipercaya), maka mereka pasti tahu bahwa wabah Corona tidak semenakutkan itu.

Hoax yang dikombinasikan dengan Sosial Media

Ini jauh lebih parah. Bahkan waktu virus Corona pertama kali muncul, sudah ada berita Hoax bahwa virus ini bisa menyebar lewat HP Xiaomi. Tidakkah ini keterlaluan?

Yang membuatnya semakin buruk, masyarakat kemudian serta merta memercayainya tanpa melihat kebenaran terlebih dahulu, dan kemudian malah menyebarkannya ke grup WhatsApp dan Facebook. Akhirnya kepanikan terjadi, meskipun sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan.

Waktu wabah penyakit Ebola, MERS, dan SARS yang levelnya tidak kalah menakutkan sekalipun, tidak terjadi kekacauan seperti ini. Mengapa? Mudah saja, karena saat itu media sosial masih belum bisa diakses sebebas sekarang. Sehingga sulit bagi oknum untuk menyebarkan berita hoax.

Oknum oportunis

Masker adalah salah satunya. Meskipun sudah diberitahukan bahwa hanya yang sakitlah yang perlu masker, tapi tetap saja semua berbondong-bondong beli masker. Faktanya, masker ternyata tidak melindungi tubuh dari virus secara penuh!

Yang ada malah akhirnya yang sakit tidak bisa beli masker, karena harganya sudah dimainkan oleh oknum-oknum yang kebelet kaya ini. Penyebaran virus malah semakin luas, dan keadaan malah semakin sulit dikendalikan. Ini yang tidak dipikirkan oleh masyarakat.

Kondisi-kondisi di atas sebenarnya tidak hanya untuk kasus Corona saja, tapi juga berlaku untuk kejadian-kejadian lain. Seandainya masyarakat memiliki pola pikir yang lebih panjang, maka tidak seharusnya keadaan menjadi semakin buruk. Ayolah, apa sulitnya berpikir rasional dan menjadi kritis?

Indonesia Certified Digital Marketing Specialist
Owner of xinfczd.com

Follow me at: Instagram and LinkedIn

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

No spam please! Be a good netizen. Komentar dengan link aktif akan dihapus oleh admin blog. EmoticonEmoticon

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *