Alasan Mengapa Pendidikan Formal Kita Masih Kurang

Mendekati akhir tahun pelajaran, berarti sudah tiba waktunya untuk evaluasi. Seberapa banyak kah ilmu yang sudah diajarkan kepada anak-anak indonesia sekarang ini?

Setahun ini saya sudah melihat cukup banyak kekisruhan di dunia pendidikan. Mulai dari perencanaan USBN, perubahan cara penilaian untuk SBMPTN, penerapan soal-soal HOTS (High Order Thinking Skill) di UNBK, dan berbagai kasus lainnya. Dari sini saya ingin mengungkapkan beberapa pendapat saya tentang pendidikan formal kita di negeri ini.

Alasan Mengapa Pendidikan Formal Kita Masih Kurang

Mengapa pendidikan formal kita masih kurang? Padahal, pendidikan formal lah yang memberikan pondasi untuk seorang anak agar bisa terjun di dunia masyrakat begitu mereka dewasa. Ada beberapa hal yang ganjil, dan ini sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun dan bahkan mulai dari sistem sekolah berdiri. Apa saja?

Alasan Mengapa Pendidikan Formal Kita Masih Kurang

Salah satu yang ingin saya sorot adalah beban sekolah yang mulai kacau. Saya sebagai guru les, tentu mengajar anak dari berbagai sekolah dan tingkatan. Beberapa anak yang saya pegang ada yang masih duduk di sekolah dasar sampai di kelas 3 SMA yang memepersiapkan diri untuk masuk ke jenjang pendidikan lanjutan.

Sistem beban sekolah yang saya maksud adalah rasio dari tingkat kesulitan pelajaran terhadap kemampuan berpikir anak. Saya mulai menemui berbagai soal yang menuntut kemampuan logika tinggi seperti penggunaan variabel dan persamaan di soal-soal anak kelas 3 Sekolah Dasar. Pertanyaan saya, apakah soal ini sudah seharusnya diajarkan ke anak sekecil itu?

Meskipun memang soal yang diberikan adalah persamaan sederhana, namun tetap saja anak kelas 3 Sekolah Dasar saya kira tidak akan sampai pemikirannya untuk menggunakan variabel x dan y. Padahal, saya baru menemui penggunaan variabel ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama.

Bahkan dasar pelajaran statistika dan peluang yang seharusnya diajarkan di kelas 6 Sekolah Dasar pun sekarang sudah mulai diajarkan di kelas 3 Sekolah Dasar. Benar-benar terasa seperti sekolah sedang melakukan kejar tayang.

Efek Domino

Sebenarnya apa yang sedang dikejar? Percuma juga diajarkan jika muridnya kesulitan untuk memahami dunia data dan statistik. Masalahnya, pelajaran baru ditambahkan dan tidak mungkin mengurangi porsi pelajaran dasar operasi matematika.

Efeknya? Tentu saja bisa membuat anak menjadi stress karena nilai yang didapatkan dari ulangan otomatis menjadi jelek karena tidak paham pada pelajarannya. Belum lagi dari pihak orang tua mau tidak mau harus memasukkan anaknya ke lembaga bimbingan belajar tambahan, karena di sekolah 1 guru harus mengajar ratusan murid sehingga menjadi tidak fokus.

Dengan memasukkan anak ke Lembaga Bimbingan Belajar, maka semakin terkikislah waktu bermain anak. Harus diakui bahwa usia kanak-kanak membutuhkan porsi waktu bermain yang cukup banyak agar si anak tidak menjadi kurang pergaulan atau ketinggalan informasi. Sudah banyak fenomena anak yang terlalu fokus pada pelajaran sekolah dan akhirnya menjadi tidak terbuka dengan dunia luar.

Selain itu, dengan diberlakukannya sistem kejar tayang ini maka ikut terkikislah waktu untuk pelajaran yang berkaitan dengan moral, perilaku, dan pengembangan diri anak. Ini baru pelajaran matematika dan belum termasuk mata pelajaran lainnya.

Solusi?

Jelas kita tidak mungkin merubah tatanan sekolah karena ini berurusan dengan bagian penyusun kurikulum di pemerintah sana. Tapi kita bisa meminimalisir dampak negatifnya dengan beberapa cara :\
  1. Tidak memfokuskan anak pada pencapaian nilai akademis. Memang ini penting, tapi bukanlah segalanya
  2. Jika ada pelajaran yang anak sukai, maka fokuskan ke sana. Banyak orang yang keliru dan ingin anaknya menguasai semua mata pelajaran di sekolah. Sebagai pertimbangan logika: Guru yang mengajar setiap mata pelajaran saja harus sendiri-sendiri sesuai spesialisasinya, maka murid tidak seharusnya diwajibkan untuk menguasai semua pelajaran
  3. Jangan menilai kecerdasan anak dari ranking
  4. Fokuskan ke pendidikan moral dan pengembangan diri jika anak berada di luar lingkungan sekolah. Bagaimana pun, pelajran di sekolah jaman sekarang sudah cukup padat dan berat.
Jika tidak diperbaiki dari sekarang, maka generasi peneruslah yang menjadi taruhannya. Akhir kata, semoga pendidikan kita terus berkembang ke arah yang lebih baik.
Dwinandha Legawa
Dwinandha Legawa Author blog yang lagi sibuk berkelana. Temukan saya di LinkedIn:

Post a Comment for "Alasan Mengapa Pendidikan Formal Kita Masih Kurang"