Mengenal 7 Jenis Profesi Digital Merketing yang Lagi Ngehits

5/30/2020 Add Comment
Saat ini mayoritas perusahaan sudah tidak hanya berfokus pada cara pemasaran konvensional saja, tapi juga masuk ke ranah Digital Marketing. Mulai dari website, social media, Google Ads, dan banyak lagi. Dan karena masalah pemasaran digital ini ternyata juga tidak simpel, maka banyak perusahaan pun mencari pekerja yang menguasai bidang ini yang kemudian membuat profesi Digital Marketing menjadi cukup populer.

Nah karena banyak menyangkut teknologi, profesi ini banyak diminati dan dinilai cocok untuk para generasi milenial yang kebanyakan sudah melek teknologi. Dari segi penghasilan, nilainya juga tidak kalah dengan profesi-profesi bergengsi lainnya loh! Menurut data dari Indeed, gaji Digital Marketer di Indonesia berada di angka 5.5 juta rupiah!

Tapi sebenarnya apa sih jenis-jenis dari Digital Marketing ini? Dan apa yang harus dikerjakan? Apakah cukup dengan buka-buka HP dan laptop terus dapat bayaran? Eits, tidak semudah itu ferguso! Biar kamu nggak salah, berikut akan kami infokan 7 jenis profesi Digital Markting yang paling populer di Indonesia.

Mengenal 7 Jenis Profesi Digital Merketing yang Lagi Ngehits

7 Jenis Profesi Digital Marketing Paling Populer

Tadi sudah dibahas bahwa Digital Marketing mencakup banyak hal, dan tentu saja tidak mungkin ditangani oleh satu orang saja. Sebagai tambahan, kebanyakan dunia pendidikan masih belum memberikan materi tentang Digital Marketing yang update sesuai dengan kondisi lapangan. Jadi mungkin saja ada beberapa hal yang terdengar asing.

Content Creator

Content creator atau kreator konten bertugas untuk membuat berbagai jenis konten untuk kebutuhan promosi perusahaan. Biasanya terdiri dari teks, gambar, video, atau podcast yang berisi materi produk yang dipromosikan oleh perusahaan tempat kamu bekerja. Kebanyakan konten menggunakan prinsip soft-selling atau penjualan tidak langsung, sehingga audiens tidak tahu kalau yang sedang mereka nikmati adalah konten yang berisi kegiatan promosi.

Profesi Content Creator akan membutuhkan kolaborasi dari tim sales dan marketing dari perusahaan, guna menciptakan content pemasaran yang baik dan sesuai dengan alur penjualan dari perusahaan.

Untuk menjadi seoorang content creator, kamu harus memiliki latar belakang pendidikan Marketing, Manajemen, Ilmu Komunikasi, Komunikasi Bisnis, atau DKV.

Copywriter

Banyak yang salah mengira bahwa Copywriter itu kerjanya copy paste. Well, itu 100% salah ya! Dalam bahasa Inggris, copy itu artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan tulisan sedangkan writer berarti penulisnya.

Ini artinya Copywriter adalah profesi yang bertanggung jawab untuk menyediakan segala kebutuhan tulisan yang dibutuhkan perusahaan. Dalam digital marketing, peran Copywriter bisa dibilang paling krusial sebab sebagian besar konten yang diproduksi di dunia digital selalu mengandung tulisan.

Copywriter akan mengemban tanggung jawab untuk menulis naskah iklan, teks landing page, caption social media, headline, brosur, dan banyak lagi. Pokoknya semua yang berkaitan dengan tulisan yang mengandung marketing. Dan para Copywriter pasti bakal berkolaborasi dengan tim Social Media, Marketing, dan Desainer.

Untuk menjadi seorang Copywriter, kamu harus memiliki latar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi, Marketing, Komunikasi Bisnis, atau Media/Jurnalistik

SEO (Search Engine Optimization) Specialist

Siapa nih yang sering dengar tentang SEO? SEO atau Search Engine Optimization adalah cabang digital marketing yang membahas tentang cara kerja search engine atau mesin pencari seperti Google. SEO Specialist biasanya akan berkolaborasi dengan tim Copywriter dan Web Developer perusahaan, agar semua hasil kerja mereka masuk ke dalam standar SEO.

Tugas dari SEO Specialist sendiri tidak banyak jika dibandingkan dengan profesi di dalam dunia digital marketing lainnya, sebab SEO Specialist hanya bertugas untuk mengikuti update algoritma SEO dan memastikan bahwa konten serta produk digital perusahaan lainnya masuk ke dalam algoritma tersebut.

Seorang SEO Specialist akan banyak berurusan dengan kata kunci, struktur web/konten, dan strategi mencari backlinks. Perusahaan juga akan memberikan nilai tambah bagi kamu yang pernah mengurus blog pribadi.

Untuk menjadi seorang SEO Specialist, kamu harus memiliki latar belakang IT, Media/Jurnalistik, atau Manajemen Bisnis

Social Media Specialist

Khusus buat kamu yang suka banget dengan dunia social media, maka ini adalah profesi yang paling cocok buat kamu! Ya, Social Media Specialist merupakan profesi yang bertanggung jawab atas perkembangan akun social media dari perusahaan.

Dalam dunia digital marketing, social media merupakan salah satu channel marketing yang sangat penting. Mengingat pengguna social media sendiri sudah sangat banyak dan tentu saja itu artinya jumlah pelanggan potensial yang juga banyak. Di sinilah seorang Social Media Specialist dibutuhkan, untuk merangkul para pengguna social media itu menjadi konsumen loyal perusahaan.

Tapi Social Media Specialist tidak hanya bertugas sebagai admin yang kerjanya upload dan balas DM saja loh! Kamu juga harus bisa membuat content dan marketing plan (SMM dan SMO), optimasi IG/FB Ads atau ads social media lainnya, memonitor perkembangan akun, sampai membuat konten untuk social media itu sendiri, yang artinya kamu bakal perlu sedikit kemampuan desain grafis dan copywriting.

Tapi tenang saja, sebab ada perusahaan yang memisahkan divisi Social Media Specialist dengan Designer maupun Copywriter-nya, jadi kamu hanya murni menangani perkembangan akunnya saja. Biasanya Social Media Specialist akan bekerja sama dengan dua divisi tadi, ditambah E-Commerce, Marketing, dan Public Relation untuk kebutuhan press release.

Untuk menjadi seorang Social Media Specialist, kamu harus memiliki latar belakang Ilmu Komunikasi, Marketing, DKV, Komunikasi Bisnis, atau Media/Jurnalistik.

Content Marketer

Setelah konten-konten tadi dibuat dan diunggah ke situs/akun social media, tentu sekarang adalah bagaimana cara mencari views dan followers kan? Nah di sinilah tugas seorang Content Marketer!

Content Marketer harus tahu bagaimana cara menyebar dan memasarkan content ke audiens yang tepat, sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Serta harus menguasai metode terbaik untuk menciptakan konversi (rasio antara views/followers dengan sales).

Pada prakteknya, profesi Content Marketer di beberapa perusahaan merupakan gabungan dari Content Creator, SEO Specialist, dan Social Media Specialist. Jobdesknya bisa gabungan dari ketiga itu (meskipun tidak semua).

Untuk menjadi seorang Content Marketer, kamu harus memiliki latar belakang Ilmu Komunikasi, Marketing, atau Komunikasi Bisnis.

UI/UX Specialist

Jika kamu pernah terpukau dengan tampilan dan merasakan mudahnya mengakses menu dari sebuah aplikasi, maka itu adalah hasil yang bagus dari seorang UI/UX Specialist. Yap, UI/UX Specialist merupakan salah satu cabang digital marketing yang menangani masalah seputar tampilan, design, dan alur penggunaan aplikasi atau web digital dari perusahaan.

Banyak orang bertanya-tanya apakah UI (User Interface) dengan UX (User Experience) itu berbeda atau tidak. Jawabannya adalah beda, dan keduannya memliki prinsip masing-masing meskipun tidak 100% terpisah.

Sesuai pengertiannya, UI lebih terfokus pada Interface atau tampilan antarmuka. Biasanya seseorang yang memegang prinsip UI akan lebih memperhatikan estetika dari desain yang dia buat. 

Sedangkan UX lebih terfokus pada kegunaan dari desain tersebut, apakah desain itu bisa digunakan oleh manusia atau tidak. Salah satu yang menarik adalah, ada profesi yang hanya mensyaratkan UX saja tanpa perlu menguasai UI seperti UX Researcher.

Seorang UI/UX Specialist akan memiliki tanggung jawab untuk membuat desain dan perkiraan flow pengguna untuk aplikasi atau situs web perusahaan, lalu membuat perbaikan sesuai dengan data yang dikumpulkan dari lapangan.

Jika kamu tertarik untuk menjadi UI/UX Specialist, maka kamu perlu memiliki latar belakang Psikologi atau DKV.

Digital Ads Specialist

Sama seperti dunia periklanan konvensional, dunia periklanan digital (seperti IG Ads dan FB Ads) juga memerlukan orang yang ahli di bidangnya. Sebab, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kesuksesan periklanan digital seperti rasio konversi, penggunaan kata kunci, dan jenis konten yang memiliki impact yang baik di dunia digital. Semuanya ini merupakan tanggung dari seorang Digital Ads Specialist.

Tapi ada juga perusahaan yang menggabungkan profesi Digital Ads Specialist dengan Digital Marketing Specialist-nya sekaligus. Untuk lebih jelasnya, kamu harus membaca tanggung jawab dan persyaratan yang ditulis oleh perusahaan sebelum memutuskan untuk melamar.

Jika kamu tertarik menjadi seorang Digital Ads Specialist, maka kamu perlu memiliki latar belakang Marketing, Komunikasi Bisnis, atau Ilmu Komunikasi.

Nah, sekarang sudah cukup jelas kan jenis-jenis profesi Digital Marketing yang cukup populer? Memang terkadang tidak selalu ideal sesuai dengan deskripsi dan pengertiannya, jadi sebisa mungkin kamu harus bisa menguasai setidaknya 3 sampai 4 jenis dari posisi di atas sekaligus. Sekarang, apakah kamu siap menjadi seorang yang handal dalam dunia Digital Marketing? 

Apa Itu Istilah Monkey Business dan Resiko Jika Anda Mengikutinya

5/05/2020 Add Comment
Belakangan ini istilah 'Monkey Business' menjadi cukup populer di tengah-tengah merebaknya kasus penimbun masker yang merugi. Ya, istilah Monkey Business ini memang sudah dikenal cukup lama, terutama jika anda masuk ke dunia pasar modal/saham dimana para pelaku skema bisnis ini sudah tidak bisa dihitung lagi jumlahnya.

Sebelum kita lanjut ke pembahasan lebih jauh, mari kita bahas terlebih dahulu sejarah dari cerita di balik istilah Monkey Business ini. Diawali dari seorang pengusaha kaya yang membeli monyet seharga 1 juta (anggap saja harga pasarannya segitu). Pengusaha ini lalu merasa tidak cukup, dan akhirnya meminta untuk mencari monyet lebih banyak lagi.

Kabar ini tentu cepat meluas (tentu saja, sebab ini berhubungan dengan peluang bisnis dan keuntungan) ke masyarakat, yang akhirnya membuat masyarakat segera berlomba-lomba mencari monyet untuk dijual ke pengusaha kaya tersebut. Lambat laun, monyet-monyet habis diburu dan dijual ke pengusaha tersebut sebesar 1 sampai 1.5 juta.

Karena populasi monyet sudah berkurang dan makin sulit dicari, akhirnya pengusaha tersebut menaikan harga penawaran ke angka 2 juta dan kejadian itu terulang lagi seperti di awal-awal saat dia mencari harga 1 juta. Masyarakat yang semakin berapi-api akhirnya terus memburu monyet lain, dan bahkan rela merogoh kocek untuk membeli monyet yang dijual oleh pemburu lain atau membuat peternakan monyet sendiri. Dari sini, tentu harga pasar sudah naik habis-habisan karena banyaknya permintaan.

Apa Itu Istilah 'Monkey Business' dan Resiko Jika Anda Mengikutinya

Ketika populasi monyet habis dan si pengusaha tidak bisa mendapatkan lagi monyet sampai harga tertentu, maka ia akan memulai untuk menjual monyetnya kembali ke masyarakat dengan memperhitungkan margin keuntungan yang ia dapat. Sebut saja rata-rata harga monyet yang ia beli adalah 3.8 juta, maka seekor monyet dijual seharga 4 juta sudah cukup untung bukan? Bahkan harga ini bisa lebih murah dari harga pasar yang ternyata sudah menembus sampai 6 juta karena permintaan tinggi tadi.

Masyarakat yang masih terkena efek dari skema bisnis ini, tentu berlomba-lomba untuk membeli monyet yang harganya 'di bawah pasar' tersebut. Karena si pengusaha sudah selesai dengan tugasnya, maka tidak ada lagi permintaan monyet dengan harga tinggi. Harga pun berangsur menurun seiring dengan banyaknya stock yang ada di pasaran. Dari sinilah masalah timbul dan akhirnya banyak penjual monyet dadakan yang merugi karena tidak menyadari bahwa mereka telah dikerjai.

Fenomena Monkey Business di Tengah Wabah Corona

Hal ini persis sama ketika kejadian yang menimpa para penimbun masker. Mereka sekarang mulai sakit kepala karena kerugian yang diderita akibat dari Monkey Business ini. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa ternyata masker bedah yang dijual di pasaran ternyata bisa digantikan dengan masker kain dengan harga yang relatif jauh lebih murah.

Ditambah lagi konsumen masker terbesar, yaitu negara China sudah mulai mengurangi permintaan masker karena wabah Corona di negara mereka sudah berangsur membaik. Sekarang para penimbun amsker mulai berlomba-lomba untuk menjual barang timbunan mereka dengan harga adu murah (ada yang sampai membuat tweet "twitter do your magic" malah).

Ini yang terjadi jika anda hanya ikut bisnis atau jualan tanpa perencanaan dan pengetahuan berdagang yang cukup matang alias dadakan. Anda bisa saja terjerat berbagai skema bisnis yang tidak membawa keuntungan, dan malah menyedot keuangan anda. Sudah sulit dapat kerja karena wabah, sekarang malah harus menanggung rugi karena fenomena ini. Benar-benar miris.

Menimbun Barang yang Mengakibatkan Kelangkaan itu Dilarang Undang-Undang!

Pemerintah tentu tidak diam saja dalam menghadapi potensi merugikan ini, sebagaimana mereka mengaturnya dalam undang-undang Pasal 29 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (“UU 7/2014”). Selain potensi kerugian yang besar, kelakuan menimbun barang juga bisa mengakibatkan masalah sosial seperti kelangkaan.

Kasus-kasus Monkey Business seperti ini sudah terjadi sejak lama, mulai dari tumbuhan gelombang cinta sampai ikan louhan. Dan masyarakat sepertiya tidak pernah cukup belajar dari kedua kejadian itu. Memang jualan tidak dilarang hukum, tapi tidakkah sedikit menggunakan akal sehat sebelum memutuskan untuk jualan?

Potensi rugi terbesar adalah mereka yang baru ikut-ikutan di akhir periode, dimana harga sudah naik gila-gilaan dan siap untuk terjun bebas. Dan ini yang sekarang sedang terjadi di masyarakat. Jadi, sebelum anda ikut-ikutan berjualan, ada baiknya anda melakukan analisa jangka panjang terlebih dahulu apakah model jualannya termasuk skema bisnis menyedihkan ini atau tidak.

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *